JAKARTA -- Pemerintah Provinsi Lampung mendukung kegiatan mahasiswa atau santri masuk desa untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat di perdesaan.
"Kami siap menanggung biaya hidup santri dan mahasiswa yang terjun ke desa, agar mereka bisa pula memakmurkan masjid dan memberi pengaruh yang positif di tengah masyarakat," kata Gubernur Lampung M Ridho Ficardo di Bandarlampung, Rabu (11/2)
Ia mengharapkan, pesantren dan perguruan agama memiliki peran kepada masyarakat untuk kehidupan yang lebih baik dan hal ini sedang di programkan dengan IAIN dan pesantren-pesantren di Lampung. Menurutnya, prinsip agar Islam bisa menjadi rahmatan lil alamin atau menjadi rahmat untuk masyarakat sekitarnya salah satunya menghidupkan ajaran agama di lingkungan sekitar.
Karena itu, lanjutnya, sangat diperlukan kegiatan mahasiswa dan santri masuk desa guna memberikan pengaruh yang baik kepada masyarakat khususnya untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Di sisi lain, Ridho mengatakan bahwa Lampung pernah dikenal dengan kejahatan begal, namun belakangan hal tersebut mulai teratasi oleh penegak hukum yang ada di daerah ini.
Ia mengatakan bahwa kejahatan seharusnya bisa dicegah bila kegiatan keagamaan hidup. "Kita lawan kejahatan, bukan orangnya yang kita habisi tapi kejahatannya yang kita habisi, lewat ajaran agama. Sehingga bisa hijrah ke arah yang lebih baik. Keinginan saya pesantren dan perguruan tinggi agama tidak hanya menjadi menara gading namun juga bisa menjadi rahmat untuk wilayah sekitarnya," ujar Gubernur.
Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka Annual International Confrence On Islamic Studies (AICIS) ke-16 di Ballroom Novotel Lampung, Selasa malam (1/11). Menteri menyampaikan, tema besar pertemuan adalah "Kontribusi Islam Indonesia Bagi Peradaban Dunia". Lukman mengajak forum untuk merumuskan nilai-nilai yang berkembang di nusantara.
Tiga ciri nilai Islam yang berkembang di Indonesia, yang membedakan nilai Islam yang berkembang di negara lain, yakni pertama nilai Islam moderat (4 Mahzab menjadi pedoman), nilai Islam yang tolerensi, tawazun/keseimbangan.
Kedua, nilai Islam yang mempertahankan tradisi dan ketiga iilai Islam yang nasionalis, Islam yang ber-Indonesia.
"Dari kajian nilai Islam Indonesia, selanjutnya akan menjadi acuan untuk menjawab tantangan peradaban Islam dunia. Islam yang moderat mempertahankan ketauhidan, namun tetap toleransi. Karena Indonesia begitu heterogen, beragam suku, agama dan budaya. Begitupun dunia, membutuhkan Islam yang mampu hidup berdampingan dengan damai," ungkap Menteri.
Sumber: REPUBLIKA.CO.ID,










Posting Komentar