Oleh : Siskayani SenJa
Mahasiswa STAIN Bengkalis
الدُّنْيَا مَتاَعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Artinya : “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)
Wanita berasal dari bahasa sansekerta “Bonita” yang artinya mulia, cantik, dan berkepribadian. Dalam bahasa Indonesia, huruf B berubah menjadi huruf W karena keduanya sama-sama huruf bibir. Dan perubahan ini tidak mengubah dari arti kata tersebut.
Namun apakah hanya cantik saja yang wanita perlukan ?
Dan apakah semua wanita dapat disebut sebagai perhiasan dunia ?
Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW diatas, diterangkannya bahwa sesungguhnya wanita itu adalah perhiasan dunia, yaitu wanita-wanita yang shaleha. Wanita yang senantiasa menjaga aurat, pandangan, ucapan, dan wanita yang memiliki sifat malu. Bukan wanita modern seperti yang layaknya kita lihat sekarang, wanita yang dengan bebas membuka auratnya disana sini, dan dengan bebas bergaul dengan alasan mengikuti trend katanya. Oleh karna itu tentu saja tidak semua wanita dapat menjadi perhiasan dunia.
Lalu wanita bagaimanakah yang disebut sebagai wanita shaleha ?
Rasulullah SAW bersabda :
“Maukah aku beritahu kepada mu tentang sebaik-baik harta pusaka yang dimiliki seseorang? Yaitu wanita shaleha yang menyenangkan apabila dipandang, yang taat padanya jika disuruh, yang bisa menjaganya jika ditinggal pergi.” (HR.Abu Daud dan Al-Hakim).
Dua hadist diatas adalah termasuk hadits dikhususkan oleh Rasulullah SAW kepada wanita. Betapa islam dan Rasulullah memuliakan kaum wanita. Bak kata pepatah yang mengatakan bahwa kesuksesan suatu bangsa tergantung kepada wanitanya. Yang artinya, jika baik wanita dalam suatu bangsa, maka baik pulalah keturunannya yang menjadi generasi penerus, dan begitu pula sebaliknya. Wanita adalah pencetak generasi, wanita layaknya madrasah yang membimbing para generasi masa depan. Begitulah pengaruh kebaikan dan keshalehahan wanita terhadap lingkungan masyarakat.
Betapa islam sangat memuliakan wanita, betapa islam sangat menjaga wanita dari pengaruh dunia luar dan kebebasan mata laki-laki diluar sana. Itu semua semata-semata untuk kepentingan dan kebaikan wanita itu sendiri. Yaitu dalam hal menjaga aurat, pandangan, dan kemaluan.
Alkisah terjadilah sebuah dialog singkat antara pria non muslim yang sangat penasaran dengan kepribadian wanita muslim yang selalu mengenakan pakaian yang serba menutup dan tidak mau sembarangan berjabat tangan dengan sembarang pria. Kebetulan hal itu ditanyakan kepada seorang tokoh agama.
“Wahai saudara muslim, bolehkan aku bertanya sesuatu tentang wanita yang sefaham dan seagama dengan mu?” Tanya pria non muslim tersebut kepada tokoh agama, sebut saja ustadz.
“Tentu saja boleh, jika bisa saya jawab, akan saya jawab dengan jelas, namun jika tidak, maka akan jadi PR buat saya.” Ujar ustadz tersebut.
“Saudara, kenapa saya sangat susah untuk dapat berjabat tangan dengan wanita muslim? Padahal saya hanya ingin berkenalan, tiada maksud hendak macam-macam.” Ujar pria tersebut dengan serius.
Dengan tersenyum ustad tersebut menjawabnya dengan kembali melontarkan sebuah pertanyaan. “Saudara ku, bisakah kamu berjabat tangan dengan ratu Elizabeth? Bisakah kamu dengan mudah berjabat tangan dengan ratu Cleopatra?”
“Tentu saja tidak!” Jawab pria itu dengan cepat. “Mana bisa sembaranagn orang berjabat tangan dengan mereka, apalagi saya bukan siapa-siapa mereka.”
“Nah itulah wanita dalam islam, dalam agama kami.” Ujar sang ustadz. “Wanita dalam agama kami sangat dimuliakan, dan sangat dijaga, bahkan untuk berjabat tangan pun wanita harus pilih memilih. Dan siapa yang bisa berjabat tangan dengan wanita, ya muhrimnya. Yaitu suaminya, orang tuanya, dan saudara-saudaranya”.
“Lalu kenapa wanita islam selalu memakai kerudung? Apa itu tidak panas?” tanya pria itu lagi dengan penasaran.
Tidak mau kehabisan akal untuk menjawab, sang ustadz mengambil dua buah permen lolipop. Yang satu dibiarkan tertutup rapat, dan yang satunya di buka. Lalu keduanya dijatuhkan ketanah. “Nah, permen mana yang kamu pilih untuk kamu ambil?”
Spontan pria itu mengambil permen yang masih terbungkus rapat. Sang ustad kembali tersenyum, lalu berkata “Nah kamu sendiri sudah tau jawabannya, kamu lebih memilih permen yang masih asli, bersih, dan belum pernah tersentuh. Bukan masalah panas atau tidaknya, namun berusaha untuk menjadi yang terbaik. Itulah wanita dalam agama kami.”
Dari dialog singkat antara ustad dan pria non muslim itu tadi dapat banyak pengajaran yang bisa kita ambil. Ketika Allah mewajibkan hamba-hambaNya untuk berhijab dan menutup aurat, itu semua tidak lain adalah untuk kebaikan wanita itu sendiri. Jilbab disyariatkan untuk melindungi wanita dari jiwa-jiwa yang kotor dan keji yang condong untuk melalukan kejahatan. Disinilah nampak jelas manfaat diwajibkannya hijab, sesuai denagn firman Allah:
“Yang demikian itu adalah supaya mereka mudah untuk dikenal, kerena itu mereka tidak diganggu.” (QS.Al-Ahzab : 59)
Ketika islam telah memuliakan kita, janganlah kita sendiri yang menjatuhkan dan menghancurkan kesucian dan kehormatan wanita yang telah Allah beri. Janganlah kita sendiri yang menolak hukum Allah untuk memuliakan wanita dengan sikap kita yang sudah keterlaluan dan keluar jauh dari syariat islam. Modernisasi memang tidak bisa kita tolak, kita juga akan mati gaya tanpa modernisasi. Namun wanita, saring dan pilihlah apa yang baik untuk mu, jangan engkau ambil semua secara mentah. Yakinlah, bahwa kita semua wanita islam, dapat menjadi perhiasan dunia yang indah dalam pandangan Allah SWT. Aamiin..
Oleh : Siskayani SenJa
Mahasiswa STAIN Bengkalis
Tulisan ini masih sangat minim, ilmu agama saya juga masih sangat dangkal. Mohon koreksinya buat para pembaca yang berkenan. Dan terima kasih telah sudi membaca tulisan ini. Semoga Allah memberkahi kita semua.










+ komentar + 2 komentar
Kereeeen ndook... semakin Kreatif aja Fatayat nii...
Lanjutkan
Bagus sekali tulisannya,, semoga bermanfaat bagi yg membacanya :)
Posting Komentar