Abah…! Itu panggilanku kepada Bapakku. Waktu kecil sebenarnya aku sangat tidak mau memanggilanya dengan kata ABAH, karena ya teman-temanku semuanya manggil menggunakan kata Bapak atau Papa. Sedikit minder sih dengan teman-temanku.
“Kok Abah? Sudah tua ya Bapaknya?” ejekan yang sering aku terima waktu aku SD dulu. Aku coba untuk memanggilnya Bapak. Namun, tidak pernah ia setujui. Sampai pernah aku memanggilnya dengan kata Bapak, sekitar 10 kali aku panggil sedikitpun tidak ia hiraukan sibuk dengan aktifitasnya.
Aku tidak tahu apa makna yang terkandung dari kata ABAH. Sampai-sampai namaku aja ada kata Abah di belakangnya. Deri Abah. Yang aku tahu cuman setiap keluargaku yang laki-lakinya pasti ada kata ABAH di belakang namanya. Mulai dari kakek sampai kecucu-cucunya sedikit heran juga.
Setelah aku masuk SMA rasa minder itu jadi ilang. Berganti dengan bangga. Aku bangga ada kata Abah di belakang namaku. Karna kata guru Bahasa Indonesia di Sekolahku, kata Abah itu sangat istimewah. Karnah Abah seorang laki-laki tangguh yang membuat sebuah keluarga jadi hidup damai, dan tercukupkan.
Kini aku sudah besar. Sudah mau nulis skripsi di jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Islam Riau. Ini semua pun atas kerja keras Abah. Jika tidak ada Abah aku tidak yakin bisa merasakan bagaimana menulis skripsi itu.
Aku masih ingat saat-saat sulit waktu aku mau membayar uang SPP untuk semester 3. Abah berjuang mati-matian untuk mencari uang untuk membayar uang SPPku. Pernah aku mengatakan kepada Abahku.
“Abah Deri berhenti saja kulia. Kerja bantu Abah” wajah Abah memerah padam mendengar perkataanku. Tanpak tidak setuju di mimik wajah Abah.
“Apa yang mau kamu kerjakan?” Suara Abah meninggi. Abah memang orangnya keras dan tegas. Tapi ia juga sosok laki-laki yang periang dan penyanyang.
“Pergi ke luar kota saja Abah”
“Jangan, kamu teruskan kuliah kamu. Abah masih bisa usahakan untuk membayar uang SPP kamu”
Abah memang seperti itu. Dia tidak ingin melihat anaknya seperti dia yang hanya lulus SD, dan tidak mau seperti almarhumah Ibuku yang meninggal ketika aku SD, tertimpa material bangunan saat mengetuk batu pecah di sebuah proyek bangunan.
Abahpun tidak membenarkan aku untuk bekerja. Dia ingin aku fokus terhadap kuliahku. Pernah sekali aku nyuri-nyuri untuk bekerja. Jadi kuli bangunan untuk nambah-nambah uang foto kopi dan beli buku pelajaran. Tapi, hanya berjalan sekitar satu minggu. Aku ketahuan oleh Abah , ternyata Abah juga bekerja di tempat yang sama.Aku di marah habis-habissan oleh Abah.
Abah terpaksa menjual cincin peninggalan Ibuku, cincin kawinnya untuk membayar uang SPPku. Aku sangat sedih sekali. Rasa tidak tega melihat Abah berjuang sendirian. Namun, ya bagaimana lagi Abah tidak mau aku membantunya untuk mencari uang.
***
Sekarang Abah hanya bisa ngojek dan sekali-kali kalau badannya sehat bener ia kerja jadi kulia bangunan. Beda dengan dulu ia bisa kerja kuli bangunan setiap hari. Pengahasilannya pun cukup untuk bayar uang SPPku dan makan berdua.
“Abah uda lama pulang?” tanyaku saat aku sampai di rumah dari pulang kuliah.
“Sudah” jawabnya datar. Aku melihat ada wajah lelah di wajah Abah. Itulah hebatnya Abah
tidak pernah menampakan bahwah dia lelah, bahwah dia capek dengan semua pekerjaanya. Ia selalu tampil prima di depan anak dan istrinya.
Pernah aku bertanya kepada Abah. “Kenapa Abah tidak menikah lagi? Deri ngizinnin kok” apa jawab Abah
“Siapa yang mau dengan Abah yang miskin ini. Lagian Abah mau membesarkan kamu dengan tanpa campur tangan orang yang tidak ada aliran dara dengan kamu”
Hanya itu jawaban Abah. Singkat padat namun berarti. Sekali lagi aku di buat bangga mendapatkan Abah seperti dia.
***
Mau beli laptop hanya mimpi. Jangankan beli laptop mau bayar SPP saja susah.aku hanya bisa lihat-lihat brosur laptopnya. Pakaianku pergi kuliah saja lusuh, beda dengan teman-temanku setiap bulan mereka ganti baju, celana dan sepatu. Pernah aku menggunakan sepatu yang telapaknya bolong. Berkat otak kreatifnya Abah dia tambal sepatuku yang bolong itu dengan kayu. Terkadang lucu terkadang juga sedih. Begitulah hidup. Harus di nikmati baik suka mau pun duka.
“Kamu harus wisudah. Toga kamu harus di pegang oleh direktur kampusmu”
Kata-kata itu teriang-ingat di telingaku. Perkataan Abah setiap dia ngasi nasehat kepadaku. Beban bagiku, tapi aku harus berusaha memberikan kebahagiaan kepada Aabah. Abah sangat ingin sekali melihat aku wisudah.
***
“Jangan takut gitu lah. Santai saja” Kata Pak Gus, dosen pembimbingku. Dosen yang baik dan sangat banyak membantuku dalam menyelesaikan Sripsiku.
Wajah Abah terbayang-bayang di benakku. “Kamu harus wisudah” kata-kata itu teriang-iang di telingaku. Ibarat suntikan semangat yang luar biasa. Aku menarik nafas sembari mengucap Basmalah. Dengan tenang aku mulai memaparkan isi Sripsiku.
Lontaran pertanyaan pun mulai menerpaku. Ada yang membentak ada juga yang kalem. Namun pertanyaannya menusuk pikiranku. Dengan ilmu yang aku punya akhirnya semua pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji bisa aku jawab.
Aku keluar dari ruangan yang sangat angker bagiku tadi dengan wajah senang tidak ada beban sedikitpun. Teman-temanku pun tersenyum melihat wajahku terlihat senang tanpa beban sedikitpun. Tak menunggu lama aku pun mendapatkan hasilnya. Alhamdulillah Aku lolos. Pertama sekali aku bersyukur kepada Allah SWT dan hanya wajah Abah yang aku ingat.
***
“Deri Abah Bin Selamat Abah…”
Dengan langkah kaki yang teratur aku menaiki anak tangga. Berjalan menuju Direktur. Menurutku itu saat-saat yang di nantikan oleh Abahku. Aku berdiri dengan memakai toga berwarna hitam. Tangan direktur pun mulai mengalihkan togaku kesamping.
Dalam perjalan turut mataku tertuju pada Abahku. Aku meliaht senyuman manis dari Abah dan bulir-bulir mutiara mendarat di pipinya. Dengan lembut ia usap dengan tangnnya.
“Aku berhasil Abah. Ini wisudah untukmu Abah” dalam hatiku berbicara. Walaupun aku tidak bisa memberikan coumloade kepada Abah namun aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan Alahamdulillah aku sudah mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan di Pekanbaru dengan gaji yang memuaskan.
Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat Abah terjatuh dari kursinya. Mataku melotot melihat kearah Abah. Hatiku sangat cemas, ku lihat orang-orang berkerumun di sekitar Abah. Tanpa piker panjang aku langsung berlari menuju Abah. Aku melihat Abah terbaring di lantai lemh.. Dengan cepat aku merangkulnya. Aku tidak kuasa menahan tangis.
“Panggil Ambulance…” aku berteriak. Semua orang hanya bisa melihat kepedihanku. Seorang dokter datang dengan berbaju putih. Dengan cepat ia memegang urat nadi Abah. Seketika ia terdiam. Lalu menggelengkan kepalanya kepadaku. Teriakkanku bertambah besar. Tak sedikit mata yang bersedih di hari wisudahku. Aku hanya bisa menangis sambil memeluk dengan erat tubuh yang tak bernyawah itu.
“Abah…….”
Air mataku tumpah membasahi baju wisudahku. Kini Abah telah tiada.
Bengkalis, 12 Agustus 2015
Karya Kazar Adanan
Mahasiswa Politeknik Negeri Bengkalis, jurusan Teknik Sipil, aktif di Komunitas Menulis Al-Fagen.
Email : mhockazar19@gmail.com











Posting Komentar