Oleh: Agus Salim -Riau
Kuala Alam-Bengkalis-"Aku bangga menjadi anak penoreh getah, hari-hari orang tuaku bekerja sebagai seorang penoreh getah, aku bangga. bangun subuh orang tua sholat sambil berdoa seusai berdoa ayah dan ibuku menyiapkan diri untuk mencari rezeki allah sebagai seorang penoreh getah.
"aku punya cita-cita tinggi, namun cita-cita itu tidak pernah kecapaian, tapi aku tidak pernah putus asa. aku menyadari karena orang tua tidak kecukupan, tapi aku bangga menjadi anak penoreh getah.
"ketika aku mengakhiri SD aku punya cita-cita ingin melanjutkan ketingkat SLTP, namun orang tuaku tidak punya uang, aku tidak pernah kecewa dan aku memahami semuanya itu, terkadang aku menangis tanpa sadar aku memohon kepada allah supaya aku diberikan kekuatan untuk tetap sabar menghadapi semua ini dan aku berharap aku tetap bisa melanjutkan sekolah kejenjang berikutnya.
"aku punya saudara 5, abangku pertama namanya syafri, kakakku marlina, abangku ketiga samsul bahri, erna santi kakakku yang ke empat dan aku anak terakhir, aku dilahirkan dalam keluarga yang kurang mampu, dibilang kecukupan tidak, tapi aku tetap merasa bangga menjadi anak seorang penoreh getah 'sampai hari ini.
"m.nor ( ayahku ), zaimah ( ibuku ), beberapa hari menjelang aku berdoa, allah mengabulkan doaku, aku bisa melanjutkan kesekolah SLTP, orang ini karunia tuhan, ketika itu aku bangga, namun disaat kebanggaan itu aku kembali sedih, tanpa memiliki baju baru, disekeliling temanku semuanya ala baru, namun aku tetap bersyukur sebagai seorang anak penoreh getah.
"kehidupanku berbeda dengan temanku yang lain, biarpun temanku memiliki orang tua yang sama denganku, tapi mereka berbeda kehidupan denganku. Gaya hidup mereka berbeda, gaya hidup, pola pergaulan seperti ala-ala barat, aku tetap bersyukur menjadi anak penoreh getah.
"anak zaman sekarang terkadang gensi punya orang tua sepertiku, tidak mengaku orang tua, menganggap orang tuanya pembantu, tapi aku tetap bersyukur punya orang tua penoreh getah, tapi aku terkadang bertanya, aku tidak pernah diajarkan orang tua menoreh getah, beliau tidak mau aku sepertinya, sampai sekarang. Namun aku kembali bangga menjadi seorang anak penoreh getah.
"harapanku terhadap semua orang banggalah dengan sosok seorang orang tua, yang memelihara kita dari kecil hingga sekarang, yang tidak pernah bisa kita membalasnya. namun do'a dan harapan yang sering kita berikan. Aku bangga sebagai anak penoreh getah.
"setelah beberapa bulan kemudian aku berada di SLTP, diwaktu itu hari hujan sepatuku robek kebanyakan temanku bilang sepatuku AWAS TEPIJAK TAIK itulah merek sepatuku ( ATT ) yang kelihatan jempol, siapa bilang tidak sedih, tapi aku merasa sedih, aku pakai sendal jepit aku dipanggil guru sendalku diambil oleh guru, aku pulang berkaki ayam, tidak sedar air mata ini keluar dari mataku, namun aku pasrah terhadap semua ini, berselang waktu beberapa hari kemudian aku mendapat bantuan dari sekolah sebagai anak kurang mampu, beberapa perlengkapan sekolah aku dikasi bantuan, aku tetap bersyukur.
"setelah selesai ujian SLTP namun aku tetap punya keinginan mau melanjutkan ke PONDOK PESANTREN, namun harapan demi harapan nasibku sama pada awalnya, tapi orang tuaku tetap berusaha ingin melanjutkan aku ke sekolah selanjutnya, namun aku mencari pekerjaan sambilan di toko tempat kawanku, sehingga ku kembali bisa kesekolah, cita-citaku tetap tidak kecapaian aku dimasukan orang tua ke SLTA, tapi aku tetap berterima kasih memiliki orang tua sebaik itu, sehingga aku berharap sampai detik hari ini bisa membahagiakan orang tuaku dimanapun dan kapanku, aku berharap aku bisa membawa orang tuaku ketanah suci. do'aku menyertaimu ibu.










Posting Komentar