Selamat Datang di Portal Pelajar

AAHHH... DIA LAGI... LAGI-LAGI DIA... AAAHHHH..!!!

AAHHH... DIA LAGI... LAGI-LAGI DIA... AAAHHHH..!!!
Oleh: Suhardi (Founder BELAJAR MENULIS)
            Mentari bersinar tepat diatas kepala. Memberikan energi panasnya kepada semua yang berada di bawahnya tanpa ampun. Kepada pohon pisang di pojok petak tanah sebelah selatan itu yang berbatang kecil dan berbuah kecil pula. Kepada pohon-pohon akasia yang ditanam bederet membentuk lima deretan memanjang dari timur ke barat. Kepada pasukan semut-semut merah yang berjalan berbaris dengan sangat teratur itu. Kepada beberapa ekor burung yang terbang rendah kemudian mencari tempat berteduh diantara dahan-dahan pepohonan. Juga kepada belalang, jangkrik, rumah, masjid, taman dan seluruhnya. Termasuk juga menyinariku tanpa ampun. Maka keringat pun membanjiri seluruh tubuhku tanpa bisa dibendung lagi. Bahkan sampai menetes dari muka ke badan. Gue berusaha mempercepat langkahku dengan setengah berlari biar cepat sampai di asrama.Namun tiba-tiba terdengar suara dari arah sebelah barat. Itu bukan suara kentut. Gue yakin bukan seperti itu suara kentut. Dan bukan pula suara kuntilanak karena siang-siang seperti ini gue yakin kuntilanak belum berani manampakkan dirinya. Namun itu adalah suara akhwat yang memanggilku.
“Maaaassss....”
Kerena gue tidak juga menyahut dan dikira tidak mendengarnya maka dia pun berteriak sekali lagi dengan sedikit lebih keras.
“Maaaaaasssss....”
Gue kemudian berbalik arah dan melihat sesosok akhwat yang begitu cantik tengah berjalan ke arahku. Dengan jilbab berwarna pink kemudian baju berwarna ijo muda dan rok hitam agak keungu-unguan yang ia kenakan terlihat sangat serasi dan menawan. Dia kelihatan semakin cantik hari ini.
“Iya. Ada apa?” Jawabku singkat.
“Baru pulang ya mas?”
“Iya.....”
“Capek ya?
“Hehe... Iya.”Jawabku singkat sambil berlalu menuju ke asrama.
**********************
            Baru saja alarm hpku berbunyi. Itu tandanya sudah jam dua dan gue harus tahajud. Padahal malam ini belum memejamkan mata walaupun sedetik. Sejak dari selesai ngaji tadi terus memandangi layar laptop mengerjakan naskah untuk lomba khutbah jum’at minggu depan. Gue akhirnya menyudahi pekerjaanku ini lalu ke kamar mandi karena udah kebelet pengen kencing.
            Begitu selesai kencing. Tiba-tiba.....Terdengar suara Ihih! Hih! Hih! Hih! Hih... Irama tawa perempuan berbaju putih dan bernomor punggung nol alias sudel bolong. Bulu tangan, bulu kaki serta bulu ketek gue merinding. Jantung gue juga telah berdegup melampaui batas keajegannya. Gue mendengarnya jadi terkenang suara bedug malam takbiran sebulan kemarin. Dug! Dug! Dug! Dug!
Gue langkahkan kaki menuju kamar Pendi. Tapi langkah-langkah kaki gue rasanya menyiput banget. Kamar Pendi yang hanya lima meter begitu sulit gue jangkau.
            “Pendi! Pen! Bangun, Pen!”Panggil gue sambil menggucang-guncang tubuh Pendi biar cepet bangun.
“Ada apa sih? Gangguin mimpi gue aja,” protes Pendi dengan nada suara masih mengantuk.
“Serius nie Pen.. Dengerin itu ada suara hantu”. Kataku penuh ketakutan.
“Heeh.. bego’. Itu nada sms dari hp loe. Jadi laki-laki penakut amat sih. Pake rok aja sana”. Jawabnya dengan nada penuh kekesalan.
Hhhaa?? Kok gue bisa lupakalau nada smsku suara kuntilanak lagi berkokok ya. Mungkin karena udah ngantuk bin capek kali ya. Kemudian gue ambil itu hp lalu ngecek kotak masuknya dan gue buka tuh sms. Nomor baru sms gue, gak tau siapa. Jangan... jangan... kuntilanak... hihihi.. tapi bukan sih kayaknya soalnya smsnya begini:
“Assalamualaikum... Mas. Udh bngun lum? Ayo thjud... #anak_manies”.
            Siapa ya? Kalau kuntilanak pasti bukan. Mana ada kuntilanak sms pake salam and bangunin tahajud terus ngakunya anak manis lagi. Dari hasil penerawangan, penglihatan dan perabaan –hahh?? Kayak uang palsu aja pake 3 D, tapi ini 3 P.. hehehe- mungkin Novi, akhwat cantik yang menyapa gue tempo hari.
            Gue langsung ngeloyor ke kamar mandi ambil wudhu tanpa bales tuh sms yang udah bikin jantung gue copot dan sekarang gak tau entah jatuh dimana jantungku.
**********************
            Paginya pas gue jalan mau berangkat ke sekolah. Dari belakang agak jauh, terdengar burung hantu suaranya merdu –waaahh.. malah nyanyi- maksudnya terdengar suara akhwat berteriak minta lontong, bukan.. bukan. Tapi minta tolong, eh juga bukan ding. Yang bener thu Novi berteriak minta ditungguin.
            “Maaaaassss... tungguiiiinnn...”
            Gue pun menghentikan langkah sejenak menunggunya sampai dia tiba di deket gue.
            “Sendirian aja.. mas?”
            “Iya. Kamu juga tumben cuman sendirian?” Gue nanya balik.
            “Iya. Kita kan sehati.... hehehe”.
            Sehati? Serius sehati? Semacam bayi kembar siam dempet perut and dada gitu ya? Hhiiiihhh.. ngeri banget sih. Na’audzubillahi min dzalik.
            “Eehhmmm.. tadi malem aku sms buat bangunin kamu lho. Kamu bangun terus shalat tahajud gak?”
            “Makasih ya udah ngebangunin aku. Alhamdulillah aku bangun langsung shalat”. 
            “Tapi kenapa sih kok gak dibales?”
            Kenapa ya? Gue harus jawab apa ya? Gue bingung banget.Langsung aja gue ambil contekan yang gue selipin di kaos kaki. Jawabannya: Karena mempunyai nomor atam yang lebih besar. Haaa? Kok ini sih jawabannya?
            “Kamu pasti gak punya pulsa ya? Ayo ngaku?” Dia menembak, eeehh salah bukan menembak tapi menebak karena lama nunggu jawaban dari gue.
            “Ooohhh... eeehhmmm.. iya.. iya. Pulsaku baru abis, lupa beli”.
            Akhirnya tanpa terasa dia sudah sampai di depan pintu gerbang sekolahnya. Kami pun berpisah karena tidak satu sekolah. Gue lalu nglanjutin perjalanan karena sekolah gue kira-kira masih 200 meteran lagi. Tapi ketika gue berjalan beberapa saat kemudian terasa ada yang aneh pada diriku. Tiba-tiba dunia berubah menjadi terang –ya jelaslah namanya juga pukul tujuh kurang seperempat, matahari ya udah nonggol- gue terbayang-bayang wajahnya.
            Begitu sampai di sekolah tiba-tiba wajah penjaga sekolah, guru matematika yang membosankan dan semuanya yang ada, tiba-tiba terbayangkan wajah Novi di wajahnya. Wajah Novi juga muncul dalam buku-buku pelajaranku, soal-soal ulangan bahkan contekan gue pun ada wajah Novi. Bahkan ketika wudhu hendak shalat dhuhur pun butiran-butiran air yang jatuh ada bayangan wajah Novi. Sajadah pun tergambar wajah cantiknya Novi.
            Bahkan ketika gue pulang sekolah pun. Pendi yang saat itu berdiri di pintu asrama tiba-tiba berubah jadi Novi. Tanpa sadar gue memeluknya.
            “Iihhh.... najis banget tau gak”. Teriaknya sambil berusaha melepaskan pelukan dan mendorong gue sampai terjerembab.
            “Kamu sudah gila ya? Atau sekarang kamu jadi gay? Pulang sekolah tiba-tiba meluk gue. Keringat loe thu bau tau gak?” Dia terus nyerocos sambil ngikutin gue masuk ke kamar.
            “Udaaaaahhh..... gue gak butuh ceramah loe. Keluar dari kamar gue... keluar.. atau kepala loe gue tembak”. Kata gue sedikit setengah mengancam sambil mengacungkan pisang.Pendi lalu merebut  pisang itu dari tangan gue sambil ngeloyor keluar dari kamar gue.
            “Syukron..”
            “Makan sana...” Kataku bernada kesal sambil membanting pintu.
            Gue lalu rebahan di kamar. Ah.. dia lagi.. dia lagi. Sekarang dia muncul di samping sebelah kananku. Gue pun miring ke kiri supaya gak ngeliat. Tapi ah.. lagi-lagi dia muncul di samping kiriku. Gue pun merem sampai ketiduran.. tapi ah.. dia lagi yang muncul di mimpiku.Begitu bangun, ah... dia lagi yang berada di dekatku. Gue buka pintu, ah di depannya ada dia lagi yang melambai-lambaikan tangan. Gue buka cendela, ah lagi-lagi dia muncul di luar luar. Apakah ini yang namanya udah jatuh tertimpa tangga, maksud gue jatuh cinta. Ngapa-ngapain, ah.. dia lagi yang muncul. Kemana-mana, lagi-lagi dia yang selalu mengikuti.
            Gue gak mau terjebak pada cinta yang tidak halal ini. Gue gak mau pacaran. Itu prinsip hidup gue. Sekali lagi, gue gak mau pacaran.. titiiikkk gak pake koma gak pake ayam juga gak pake sambel.

            “Ya Allah, lumpuhkanlah ingatanku. Hapuskan tentang dia.Hapuskan memoriku tentangnya. Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia. Ku ingin ku lupakannya”. Lho, kenapa gue malah jadi nyanyi ya. 
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Link here | Link here | Link here
Copyright © 2014. Media Belajar Jurnalistik - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by Blogger