Selamat Datang di Portal Pelajar

Merasa Cukup

Oleh : Muhamad Zafar Shodik
GM Cimahi
Bismillahirrahmaanirrahiim,
  Tentang perasaan cukup terhadap rezeki dari Allah yang coba digambarkan oleh seorang fakir ilmu, tak banyak yang diketahui tapi semoga yang sedikit menjadi manfaat sehingga nanti yang banyak bisa menjadi kebaikan yang berlimpah

“Harta kekayaan kerap mirip dengan minyak wangi. Begitu harum saat pertama kali dioleskan, tetapi semerbaknay segera pupus setelah dipakai beberapa waktu. Tumbuhlah perasaan bosan memakai minayk wangi itu. Lantas, Kembali lagi mengangan-angankan dan mencari-cari parfum baru yang lebih wangi seperti kepunyaan orang lain”. -Buya Hamka-.1

  Banyak dari orang megira bahwa kebahagian itu saat memiliki timbunan harta yang ketika dibutuhkan ia siap sedia membantu tuannya. Pola fikir seperti ini membuat penganutnya menjadi ragu terhadap keputusan Allah saat diberikan ujian, bahkan bisa membuat seseorang lupa akan tempat kembalinya, Seakan harta dunia itu adalah segala yang diperlukan. Lupa kalau bekerja adalah ibadah yang harusnya membuat seseorang semakin tabah ketika diuji, semakin bahagia ketika pekerjaannnya membuat ia lebih mengenal Tuhannya.

  Padahal rasa cukup terhadap rizki yang telah Allah tentukan untuk kita membuat hati lapang, bahagia dalam setiap keadaan yang sepertinya kerap kurang masuk di akal manusia. Yap! rasa cukup terhadap rizki dari Allah membuat seorang pedagang bisa kembali ke rumahnya dengan hati yang puas walaupun hasilnya tak seberapa, bisa tidur nyenyak walaupun dengan alas yang tidak empuk.

    Menurut saya dengan perasaan cukup terhadap rezeki dari Allah ini seharusnya tidak menjadikan seorang muslim malas bekerja, malas mengembangkan usahanya, malas belajar lagi. Justru dengan perasaan cukup ini menjadi penenang hati disaat orang lain sedang gundah mencari harta, menjadi penawar disaat yang lain dipusingkan dengan masa depannya yang belum pasti karena bidang ilmu tertetu belum juga diraihnya. Lihat kembali kisah para sahabat mulia Rasulullah Salallahu alaihiwasalam, setiap kisah sedekah mereka disebutkan sekitar ratusan bahkan puluhan ribu dinar. Tak mungkin orang yang bersedekah sebanyak itu semuanya miskin, mereka punya harta tetapi hartanya itu tak memusingkan mereka, tak membuat mereka susah karena Itu bukan tujuan mereka.

  Memang sifat manusia itu selalu ingin lebih bukan minta cukup, Kalaulah diberi gunung emas pasti akan minta gunung emas yang lainnya bukannya bilang cukup, hanya akan bilang cukup ketika tanah sudah mengganjal mulutnya. Maka merasa cukup juga bukan perkara mudah, harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Bagi seorang muslim bukan harta yang dikejarnya tapi apa yang bisa dikejar dengan harta itu. Setiap muslim yang berdoa agar kaya sebenarnya tak sabar hatinya ketika melihat orang tua yang mengemis di tepi jalanan, selalu tak kuasa ketika melihat anak-anak jalanan yang terlantar sambil menyanyi kecil mendatangi kendaraan-kendaraan yang sempat didatanginya di perhentian jalan. Tak sabar ingin menangkap semua jompo di tepi jalan dan anak-anak yang tak jelas tujuannya, lalu ia satukan dalam satu rumah sambil menyebut-mnyebut karunia Allah sambil menyebarkan kebaikan.

  Memang sedekah orang kaya itu utama, tapi yang lebih utama adalah sedekah orang yang kekurangan. Sifat merasa cukup atau yang sering disebut dengan Qana’ah ini dimiliki oleh setiap hamba Allah. Karena bahagia itu datangnya dari hati, dan Rasulullah pun mengabarkan bahwa orang yang paling kaya ialah yang kaya hatinya. Tak sabar jadi kaya tapi jangan sampai lupa alasan mengapa kita ingin kaya.

Catatan :
1.Telaga Bahagia.

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Link here | Link here | Link here
Copyright © 2014. Media Belajar Jurnalistik - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by Blogger