Oleh : Dessy GM Jakarta
Sesosok laki-laki paruh baya dengan pakaian sunnahnya kini ada di hadapanku. Berjarak kira-kira dua langkah. Aku kenal sosok ini. Namanya Pak Samuri. Dia adalah Sahabat Ayah. Sering silahturahim kerumah, kadang-kadang sambil melihat katalog sepatu home made buatan perusahaan tempat ayah bekerja. Entah berapa sepatu sudah di belinya. Mungkin dia dan keluarganya kompak memakai sepatu buatan perusahaan tempat ayah bekerja, hehe.
"Alhamdulillah bapak ketemu kamu, Des.", Pak Samuri memulai percakapan.
"Bapak lihat aja, kalo ada Desy disini.", jawabku.
"Iya lah Bapak lihat. Walau sudah tua begini mataku masih jeli seperti bapakmu.", ujarnya.
"Ini lho des, kemarin Bapak lagi nyari sepatu buat anak saya. Bapak gak sempat main kerumah untuk lihat katalog. Jadi Bapakmu kirimkan foto katalog ke whatsapp Bapak. Alhamdulillah ada sepatu yang Bapak cari. Rencananya Bapak sepulang kajian ini mau transfer uang sepatu ke Bapakmu, tapi karena ketemu anaknya yaudah Bapak titipkan ke kamu saja, yah?", begitu katanya.
"Oh begitu. Baik, Pak.", ujarku.
"Ini, maaf bapak gak ada amplop. Tolong berikan ke Bapakmu ya. 250 ribu.", sambil memberikan tiga lembar uang seratus ribu.
"Lho, ini lebih 50 ribu, Pak.", tanyaku keheranan.
"Ya itu buat kamu. Buat beli bensin.", ujarnya.
Deg. Ya Allah, mengapa bisa pas begini. "Buat beli bensin.", mungkin kata-kata itu bagi Pak Samuri hanya basa-basi. Tapi kata-kata itu membuat diriku ingin menangis, senang campur haru. Allah benar-benar menolongku. Allah menepati janjiNya.
"Alhamdulillah. Jazaakallah khoyr, Pak. Terima kasih banyak.", jawabku dengan raut muka bahagia, seperti anak kecil yang diberikan eskrim kesukaan oleh Bapaknya.
"Waiyyaki. Ya sudah Bapak balik yah, Des. Assalamualaikum.", ujar Pak Samuri pamit.
"Wa'alaykumussalaam.", jawab kami berdua.
Dia pun berjalan menuju motornya. Dan aku menyalakan motorku. Melaju perlahan keluar area Masjid.
Ku bayarkan uang parkir dengan total 12 ribu rupiah.
Di tengah perjalanan ku belikan bensin 2 liter.
MaasyaAllah. Dari uang 5 ribu yang kubawa, Allah lipatgandakan menjadi 50 ribu. 10 kali lipat sesuai janjiNya,
مَنْ جَآءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا ۚ وَمَنْ جَآءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).
[QS. Al-An'am: Ayat 160]
Dari kejadian ini aku semakin percaya, bahwa hanya Allah yang mampu menolong hambaNya, bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan hambaNya. Walau hanya sekedar memberi tumpangan. Allah Maha Melihat dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Lega rasanya. Hasna pun pulang dengan selamat ke rumah Pamannya. Begitu pula denganku. Tak henti-hentinya lidah ini mengucapkan syukur kepada Allah,sebab Allah menghadiahi ku dengan berbagai kemudahan dan pertolongan menuju taman Surga ini. Hm, sepertinya aku tidak akan mengulangi kenekatanku ini. Lain kali aku harus menyisihkan uang untuk persiapan apapun. Sebab sahabat Rasulullah, Ali bin Abi thalib berkata,
"Kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir."
Perkataan itu sebagai peringatan untukku agar sebelum melakukan kebaikan harus dipersiapkan dengan matang.
Sekali lagi, Alhamdulillah.
tamat











Posting Komentar