Selamat Datang di Portal Pelajar

Tren Kebaikan

Oleh : Muhamad Zafar Shodik

“MasyaAllah, seneng rasanya liat banyak muslim ngumpul di masjid gini ya” kataku membuka percakapan. “Iya akh” Jawab Gian singkat.
Malam itu kebetulan kami sedang berjalan di koridor salah satu Masjid di daerah bandung yang dipenuhi orang dari segala umur dan kalangan. Ada berbagai stan buku islami, stan obat-obatan herbal, bahkan stan gratis untuk bekam dll. Kita paling suka yang gratis hehe
“Ini yang namanya tren kebaikan” ucap sohibku kembali membuka percakapan. Kemudian kujawab “Maksudnya gimana?” .
“Iya, jadi gitulah… kebaikan yang udah jadi tren tuh liat” jawabnya singkat, Kujawab lagi “Hmmm…”
Bete yah ngobrolnya cuma gitu, tapi obrolan yang memang udah setaun lewat itu tiba-tiba terlintas di benak saya ketika sering mendengar bisnis-bisnis pengusaha muslim, cara berpakaian islami, media-media yang sudah banyak digunakan untuk sarana dakwah, bahkan banyak remaja-remaja yang menyerukan untuk hijrah baik melalui media social maupun seminar-seminar islami.
Saya mikir lagi ketika sedang membaca salah satu buku sejarah islam di Indonesia, ternyata dulu islam sangat Berjaya di bumi nusantara ini, selain santri-santri dan kiyai yang selalu menyerukan jihad untuk melawan penjajah Indonesia. Di Indonesia juga pernah ada 40 titik di pulau jawa saja yang mungkin bisa dibilang kekuasaan besar, sebagian ada kerajaan islam, dan ada pasar-pasar yang dikuasai oleh muslim. Sebagian berpendapat melalui jalur itu jugalah banyak orang yang terajak menjadi muslim.
Kenapa ? karena saat itu banyak yang terpesona dengan cara kerajaan-kerajaan islam bekerja dan pengusaha-pengusaha muslim bertindak, serta terpesona dengan apa yang dibawa islam melalui para ulama dengan menunjukan akhlakul karimahnya.
Kesimpulan singkat penulis banyak yang masuk islam juga karena tren berpakaian, jual beli, serta percakapan tentang kebikan islam sudah menyebar. Itulah yang sampai saat ini terus berkembang, karena banyak yang menyerukan hijrah di media sosial dengan tulisan, berita, serta film pendeknya. Banyak juga yang termotivasi untuk ikut hijrah. Karena banyak pengusaha muslim yang menjual pakaian untuk akhwat yang semakin menutup aurat dan pakaian untuk ikhwan yang tidak isbal, maka banyak juga muslim yang berpakaian demikian.
Bahkan banyak juga yang mulai menggunakan Bahasa Arab, Bahasanya Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari meski hanya bermodalkan “Afwan” dan “Syukron” hehe.
Yang baru disadari oleh penulis adalah, ketika banyak remaja-remaja muslim yang seperti menghalalkan pacaran, merebaknya kasus zina di kalangan remaja. Banyak juga yang sudah menularkan tren Taaruf sebelum menikah sehingga tidak sedikit yang mulai belajar islam lagi, kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan dampak positif lainnya.
Begitulah tren kebaikan bekerja, ia sudah pasti dapat menghilangkan tren keburukan yang sudah ada, baik disadari ataupun tidak. Tapi Tren kebaikan merupakan dakwah yang sangat efektif. “Kebaikan ko diumbar, apa tidak riya?” Hehe Logiknya sekarang bagaimana kebaikan yang diam-diaman, sendiri-sendiri bisa ngalahin keburukan yang disebarkan secara terang terangan bahkan sampai menjadi tren.
Mengutip ucapan Ustadz Yusuf Mansur “Kalau semua kebaikan disembunyiin terus, saya takut ga dapet pahala memotivasi orang, takut ga dapet pahala ngajar, pahala dakwah dll” kurang lebih begitu. Lagipula Riya urusan hati, kita juga harus menjaga hati dengan hal-hal positif diluar diri kita, seperti lingkungan, pekerjaan, teman bergaul,dll. Bukannya kita disuruh menyampaikan dari Rasulullah walaupun satu ayat. Ayo lakukan tren kebaikan, jangan malu nanti juga banya yang ngikutin, Tinggal luruskan niat aja hehe.
Wallahu a’lam bishawab
Semoga bermanfaat


Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Link here | Link here | Link here
Copyright © 2014. Media Belajar Jurnalistik - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by Blogger