M Solihin
Mahasiswa STAIN Bengkalis (siyasah syariyyah)
Riau-Kepri, merupakan provinsi yang lekat akan kata Melayu. Hampir sebagian besar wilayah ini ditempati oleh orang Melayu. Bahkan banyak kerajaan Melayu berdiri di kedua provinsi ini. Salah satunya adalah kerajaan Siak Sri Indrapura di kabupaten Siak, Riau, yang dulunya pecahan dari kabupaten Bengkalis.
Perkembangan kerajaan melayu diawali dengan berdirinya Kerajaan Siak Sri Indrapura dan Kerajaan Lingga, yang terletak di daerah Pulau Daik-Lingga, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Kedua kerajaan ini sangat disegani, bahkan pada masa kesultanan ini bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia, yang kaya dengan susastra dan memiliki kamus ekabahasa.
Saat ini, saya ingin bercerita tentang salah satu sultan yang pernah memimpin Kerajaan Siak, yaitu Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin atau yang lebih dikenal dengan Sultan Syarif Kasim II. Sultan Syarif Kasim II lahir pada 1 Desember 1983, beliau dinobatkan sebagai Sultan pada 13 Maret 1915 menjadi sultan pada usia yang masih sangat muda, yaitu pada usia 21 tahun. Beliau sebagai Sultan Kerajaan Siak ke-12 menggantikan ayahnya, Sultan Syarif Kasim.
Pada masa kepemimpinannya, beliau sangat aktif dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Bahkan beliau berani dengan tegas menolak mengakui Kesultanan Siak sebagai bagian dari Pemerintah Kolonial Belanda meskipun para sultan pendahulunya telah terikat dengan perjanjian dengan Belanda, termasuk Perjanjian London 1824.
Selain dalam hal memerangi penjajah, dengan harta yang beliau miliki, beliau menggunakannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Siak, terutama dalam bidang pendidikan. Banyak sekolah yang didirikan di Siak dengan bahasa pengantar Melayu dan Belanda. Bahkan untuk anak-anak Siak yang cerdas, beliau juga memberikan beasiswa dengan mengirim mereka ke Batavia atau tempat lain guna menuntut ilmu.
Puncaknya, tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, beliau menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah Republik Indonesia.
Perjuangan sultan berikutnya, Sultan Syarif Kasim II membentuk Komite Nasional Indonesia di Siak, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Barisan Pemuda Republik. Ia juga segera mengadakan rapat umum di istana serta mengibarkan bendera Merah-Putih, dan mengajak raja-raja di Sumatera Timur lainnya agar turut memihak pada Republik Indonesia.
Saat revolusi kemerdekaan pecah, Sultan aktif mensuplai bahan makanan untuk para laskar. Ia juga kembali menyerahkan 30 % harta kekayaannya berupa emas kepada Presiden Soekarno di Yogyakarta untuk kepentingan perjuangan.
Pada usia 74 tahun, beliau tutup usia di Rumbai, Pekanbaru pada tanggal 23 April 1968, dan dimakamkan di dekat lokasi Kerajaan Siak. Atas dedikasi beliau dalam perjuangan kemerdekaan dan atas semakin berkembangnya wilayah Siak khususnya dan Riau pada umumnya, namanya digunakan sebagai nama bandara udara di Kota Pekanbaru. Saat ini, Kerajaan Siak masih kokoh berdiri dan digunakan sebagai objek wisata bagi para wisatawan yang ingin mengetahui secara langsung Kerajaan Siak di Kota Siak Sri Indrapura.










Posting Komentar