*PASTI CUKUP! PART III
Desy GM jakarta
Kajian tadi benar-benar sangat menggugah jiwa. Bagai tanah kemarau dibasahi hujan semalam. Itulah yang aku rasakan. Benar kata Rasulullah, taman Surga merupakan solusi bagi hamba yang dahaga.
"Catatan Anti kayaknya lengkap, tuh.", celetuk Hasna. Kuperhatikan selama kajian dia sudah 3 kali bolak-balik kamar mandi. Mungkin badannya kurang bisa diajak kompromi dengan suhu di Masjid ini. Dingin.
"Haha, makanya pakai pampers, Na. Biar aman.", jawabku.
"Enak saja, memangnya ana bayi. Ada-ada saja Anti. Tolong fotokan catatan anti, ya. InsyaAllah setelah sampai dirumah ana salin.", pintanya.
"InsyaAllah.", jawabku.
"Syukron wa jazaakillah khoyr, Desy.", katanya sambil melempar senyum kepadaku. Dua lesung pipit yang dalam menghiasi pipinya. Gemas.
"Afwaaaannnn.", jawabku sambil mencubit pipinya.
"Jadi pulang bareng, kan?", tanyanya.
"Jadiii, dooong. Masa gak jadi, nanti anti pulang naik apa dong? Mau temenin marbot Masjid ini kalo gak pulang?", jawabku
"Hehe, ya gak lah.", ujarnya.
Kami berdua berjalan keluar menuju parkiran Masjid. Hasna, bensin, dan uang parkir. Lagi-lagi 3 hal ini membuatku dilema. Saat ini keadaan benar-benar genting. Apa yang harus aku lakukan? Beberapa langkah lagi menuju tempat parkir. Dan aku belum menemukan solusi.
"Apakah uang 5 ribu punyaku ini bisa membantu?", hal ini terlintas dipikiranku.
Astaghfirullah, mengapa aku mulai menduakan Allah. Tentu yang bisa membantu hanya Allah subhanahu wata'ala. Karena aku sudah bersumpah kepadaNya, bahwa,
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ؕ
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
[QS. Al-Fatihah: Ayat 5]
Ya Allah, berikan aku solusi.
"Motor Anti yang mana, Des?", pertanyaan Hasna memecah kekalutan pikiran ku.
Aku pun memencet tombol alarm yang ada di kunci motorku.
"Tuh, yang bunyi dan menyala lampu signnya.", jawabku sambil melempar dagu memberi petunjuk.
"Canggih juga motor Anti, Ana kira cuma mobil saja yang bisa begitu.", ujarnya.
"Oya, Ana gak bawa helm, Des. Gimana dong?"
"Tenang, Ana selalu bawa helm cadangan di bagasi. Anti pakai itu saja.", jawabku.
"Alhamdulillah.", sahutnya.
Kami berdua sudah dalam posisi siap melaju. Tiba-tiba ada yang memanggil nama ku dari belakang arah jarum jam lima.
"Eh, Pak Samuri?.", kulihat dia sedang berjalan menghampiri kami berdua.
*bersambung*










Posting Komentar