Sabar dan Syukur
Oleh :
Muhamad Zafar ShodikGM cimahi
Sabar dan Syukur merupakan sepasang karakter yang harus dimiliki seorang manusia jika ingin bahagia dalam mengarungi setiap ujian hidup di dunia ini. Sabar dalam menahan emosi serta pandai mengendalikannnya akan menghasilkan manusia yang ramah. Sabar ketika dilanda peristiwa yang mengguncangkan diri akan menghasilkan sikap berlapang dada, dan sabar ketika diberikan harta yang lebih akan menghasilkan manusia yang memiliki daya tahan ekstra terhadap kemewahan dunia atau sering disebut dengan zuhud.
Sedangkan fungsi syukur juga tak kalah hebatnya, syukur terhadap pemberian Allah berupa anggota badannya baik lengkap ataupun tidak dapat mengasilkan manusia yang tak mudah mengeluh, rajin bekerja, serta selalu berusaha menghindarkan anggota tubuhnya dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah Subhanahuwata’ala. Syukur dengan lisan membuat manusia lebih sering berdzikir baik dengan mengagungkan kalimat-kalimat Allah atuapun dengan berkata yang baik saja. Syukur dengan hati membuat semuanya terasa lengkap, bersyukur karena apa yang telah hilang dan ada sekarang semuanya berasal dari Allah semata.
Rasulullah Salallahu alaihi wasalam bersabda, “Sungguh mengagumkan keadaan orang mukmin itu. Semua perkaranya bagus, dan demikian itu hanya dimiliki orang mukmin. Ketika memperoleh kebahagiaan ia bersyukur, dan yang demikian itu baik baginya. Sementara ketika ia ditimpa suatu musibah ia bersabar dan yang demikian itu juuga baik baginya.” (HR.Muslim)
Dari hadits diatas dapat kita fahami betapa menguntungkannya menjadi seorang muslim jika memiliki sabar dan syukur. Oleh karena itu makna sabar yang kadang dianggap sebagai sikap pasif dengan diam atau sekedar menunggu keadaan agar menjadi lebih baik saat ini merupakan hal yang keliru.
Mari hiasi hati kita dengan sabar dan syukur, jangan karena doa kita belum terkabul kita tunda syukur kita, jangan hanya karena kita belum diberikan rumah yang bagus maka kita menahan diri untuk bersyukur. Orang bijak berkata jika kita ingin bersyukur terhadap apa yang kita miliki lihatlah orang yang berada di bawah kita. Karena Rasulullah Salallahu alaihi wasalam pernah bersabda bahwa manusia itu ketika diberi emas sebesar gunung, maka ia menginginkan gunung emas yang lainnya.










Posting Komentar