Selamat Datang di Portal Pelajar

Sebungkus kacang disiang hari


kisah hikmah #1

@handika_putra_Grakan Menulis /LineGrup-surabaya

Perjalanan pulang dari kuliah seperti biasa aku melewati simpang lima yang disetiap sudut jalannya ada rambu-rambu jalan, tidak ada tulisan. Hanya sebuah lambang huruf yg dicoret.

Dalam benakku mulai timbul pertanyaan konyol, kok bisa yaa kode sederhana seperti itu mampu mengatur arus lalu lintas? Karena hal ini aku jd teringat sebuah kejadian seorang sopir taksi berselisih dengan seorang polisi terkait rambu-rambu jalan. inilah akibat sebuah kode yang tak sampai, Ah sudahlahh... heheh

siang itu dengan terik matahari yang panas, begitu panasnya sehingga melihat jalan ke depan seperti ada gelombang, Lampu merah terasa lama dan keringat mulai mengalir perlahan dibelakang punggung.

Sambil menunggu lampu merah menjadi hijau, aku melihat seorang nenek-nenek membawa payung berjalan perlahan melintasi jalan. Sejak itu aku mulai berpikir ternyata fungsi payung bukan hanya untuk melindungi diri dari hujan. Heheh

Nenek itu membawa plastik berwarna hitam ditangannya, ''mungkin dia mau membuang sampah", pikirku. Tapi sejauh mata memandang tidak ada tempat sampah, hanya ada sebuah keranjang kecil yang terbuat dari bambu.

tiba-tiba nenek itu mengetuk sebuah kaca mobil dan mulai berbicara "pak, mau beli kacang rebus", yaa Allahh ternyata nenek itu menjual kacang rebus, dan plastik hitam yang dibawanya adalah barang dagangannya.

Dengan suaranya yang mulai serak, langkah kaki yang pelan dan sandal jepit yang cuma diikat dengan tali rafia, nenek tersebut mulai berjalan ke arah mobil yang lain, dan tetap tersenyum meskipun tidak ada orang yang membeli kacangnya.

Pemandangan ini menampar keras hatiku, masih terpaku dengan nenek itu. Tanpa disadari lampu mulai berubah menjadi hijau, dan klakson kendaraan dibelakangku mulai berbunyi, sambil melihat kaca spion aku masih melihat nenek itu. "Kenapa dia tidak menepi?", ternyata dia menunggu kendaraan lain lewat, baru dia menyebrang. Mngkin dikarenakan jalannya yang mulai melambat.

Tanpa pikir panjang aku memutar balik motorku dan melaju kearah nenek tersebut. Dari kejauhan dia sedang duduk dipinggiran trotoar dengan payung dan kacangnya, menunggu lampu menjadi merah kembali.

Tak jauh dari lampu merah ada sebuah pos satpam, aku bawa nenek itu ke pos dan mulai membeli kacangnya. Hanya Rp.2000 satu ikat, kenapa orang-orang yang memiliki ekonomi diatas rata-rata tak mampu menyisihkan 2000 untuk nenek ini.

Sambil makan kacang hangatnya, kami mulai mengobrol panjang lebar dan Sedikit menghibur nenek itu, senang sekali rasanya melihat dia tersenyum, melihatkan gigi-gigi ompongnya. Heheh

kejadian ini aku lakukan setiap kali melihat nenek itu dijalan, hitung-hitung buat cemilan disiang hari. Dan alhamdulillah banyak orang yang membeli juga.

Sudah hampir 3 minggu aku tidak melihat nenek itu, aku tanyakan ke satpam dan orang warung, semua tidak ada yang tahu. Semoga nenek itu baik-baik saja.

Sedih rasanya tidak bisa melihat nenek itu lagi, rindu akan cerita-ceritanya ketika dia masih muda dan rindu dengan sebungkus kacang rebusnya. Untuk saat ini mngkin hanya doa yang bisa aku lakukan, doa terbaik untuk nenek itu.

Sangat sedih melihat nasib si nenek, di usianya yang sudah tua dia masih tetap semangat berjuang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, tidak kenal lelah dan 1 hal lagi nenek tersebut tidak memilih mengemis untuk mencari uang, beliau lebih memilih berjualan kacang rebus.

Dimana keluarganya ? Anak-anaknya ? Tega sekali meninggalkan beliau yang sudah tua berjuang sendirian dan tidak bisa menikmati masa-masa tuanya.

Sepanjang perjalanan aku merenung, berdoa semoga Allah senantiasa mengistiqomahkanku untuk tetap berbakti kepada orang tua. Semoga Allah memberikan yang terbaik buat si nenek.

Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Link here | Link here | Link here
Copyright © 2014. Media Belajar Jurnalistik - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by Blogger