Oleh: Kazar Asnan Ismail. Riau
Pintar dalam ruang akademik memang sangat diperlukan oleh seorang pelajar. Apalagi seorang Mahasiswa, seorang Mahasiswa harus bisa lebih pintar. Tentunya dalam bidang ilmunya masing-masing. Namun, menurut saya pribadi pintar saja tidak cukup, jika tidak ditopang dengan kreaifitas dan keimanan kita. Kenapa saya bicara seperti itu? Apa ada bukti bahwah pintar saja tidak cukup ?
Pintar saja tidak cukup. Itu poinnya yang ingin saya coba bagi kepada semua teman-teman pembaca.
Saya awali dengan bercerita. Bukan curhatnya. Tapi...
Saya tidak termasuk dalam ruang Mahasiswa yang pintar betul dan bukan juga dalam ruang bodoh betul. Tapi berada di antara dua ruangan itu. Sempit ya, memang sempit.
Kalau belajar Insya allah bisa paham. Namun, terkadang harus juga memeras otak. Di dalam kelas saya. Yang saya terpilih menjadi seorang Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil di Politeknik Negeri Bengkalis. Ada banyak macam tipe manusia. Ya itu pasti. Ada yang pintar betul ada juga yang ya di bawah standar lah. Tapi tetap ya saya berada di daerah standar itu. J
Saya seorang Mahasiswa yang bukan seperti yang lainnya. Selain belajar saya juga ikut aktif dalam berbagai kegiatan kampus maupun diluar kampus. Awalnya saya aktif di berbagai organisasi kampus dan luar kampus, cuman hobi saja. Suka mengurusi acara, suka bekerja secara berjamaah, suka disibukan kesana kemari dan suka ikut rapat. Sampai-sampai saya sering di olok-olok oleh teman sekelas saya. Rapat lagi tu dengan nada yang setengah menggelikan. Karena setiap teman-teman saya ngajak pergi makan, atau jalan-jalan sehabis pulang kuliah saya selalu ada agenda rapat.
Nah setelah berkecimpung dalam dunia organisasi lebih dari satu tahun dan berkecimpung di beberapa organisasi dan komunitas . UKMI (Unit Kegiatan Mahasiswa Islam), HIMPRO Teknik Sipil, Unit Kegiatan Mahasiswa Jurnalistik Cendekia Polbeng, BEM (Badan Esekutif Mahasiswa), Komunitas Menulis Al-Fagen (Alfatig Generation). Saya baru sadar bahwah ikut bergabung di berbagai Organisasi (yang positip) itu adalah kebutuhan bagi saya pribadi.
Kenapa? Karena dari organisasi, saya belajar tanggung jawab, tahu cara berinteraksi dengan baik, dapat berbicara didepan orang ramai, yang sebelumnya ketika bicara didepan orang ramai itu gemetaran, dapat banyak pengalaman dan teman. Yang tidak saya dapatkan di dalam pertemuan-pertemuan ketika di dalam kelas perkuliahan.
Nah ini yang saya bilang bahwah pintar saja tidak cukup. Kita butuh ilmu dari luar agar kreatifitas kita terasah, ketika kita disuruh maju di depan kita bisa, karena itu sudah menjadi hal yang biasa. Trus apa hubungannya dengan keimanan ?
Ya keimanan itu penting juga selain kita mengikuti berbagai organisasi. Saya sudah membuktikannya. Oke saya bicara jujur. Dari semester 1 sampai semester 3 nilai saya itu rendah, dan selalu ada mata pelajaran yang harus saya ulang. Rasanya itu seperti disengat listrik dengan tegangan tinggi saat melihat nilai kita itu anjlok. Malu juga mulai merayap. Malu sama teman-teman.
Akhirnya saya berfikir jauh. Memuhasabah diri apa yang salah dalam diri saya. Pada semester 4 saya mulai merubah soal ibadah saya. Dalam bidang belajar saya seperti biasa. Tapi dalam bidang ibadah saya kencangkan lagi. Saya berkomitmen setiap shalat lima waktu saya harus di masjid berjamaah, tilawah saya kencangkan, organisasi saya lancarkan. Kata ustad pengajian saya. Kuliah nomor satu organisasi juga nomor satu. Tidak ada yang dinomor duakan.
Kami di Politeknik itu masuk kuliahnya dari pagi jam 8 sampai jam 4 sore. Dengan waktu istirahat dari pukul 11 sampai 1:30 siang. Saya bertarung ketika hendak shalat berjamah di waktu ashar. Karena ketika waktu ashar dosennya masih ngajar. Dengan mengingat komitmen saya kembali. Ketika azan saya izin keluar untuk shalat. Alhamdulillah dosennya memberi izin terkadang juga saya mengajak teman di kelas. Ya ada yang mau dan ada juga yang tidak, dan ada juga dosen yang ikut shalat berjamaah. Jadinya bersama-sama keluar untuk shalat.
Ada juga pas shalat zuhur. Terkadang ada waktu kuliahnya azan zuhur belum selesai. Tetap saya usahakan untuk shalat berjamaah. Ibadah-ibadah sunnah pun saya usahakan lakukan. Organisasi lancar, ibadah lejit, belajar pun aman.
Dan alhamdulillah ketika saya melihat nilai semester 4. Hati saya seperti makan cokelat dicampur dengan susu. Hehe. Tidak ada mata pelajaran yang diulang. Nilainya di atas standar, walaupun tidak terlalu sempurna. Tapi meningkat.
Ini baru saya sadar ternyata. Pintar saja tidak cukup. Pintar , kreatif, aktif organisasi dan jaga keimanan atau ibadah baru sempurna. Karena semua yang mengatur itu Allah. Kita cukup menjalankannya saja. Kita dekati Allah dan jalankan yang sesuai dengan jalannya insya Allah, Allah bantu kita.
Kita kejar dahulu akhirat, dunia akan ngikut.
Jadilah seperti air. Dia akan melewati apa saja, bebatuan, karang, kayu, kotoran. Tapi dia tetap jalan dan bersih. Begitulah seharusnya hidup kita. Walau banyaknya tanggungan, beban, masalah, hambatan, urusan, kita jalan saja, laui semuanya dengan senyuman.
Semangat itu naik turun. Ketika naik kita kontrol, ketika turun tetaplah didalam jalur yang aman.










Posting Komentar